[BEM UNRI | INFOGRAFIS LIMBAH MEDIS]
.
● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ●
.
Hai, Kolaborator Perjuangan!

Covid-19 merupakan wabah penyakit yang sedang mengguncang dunia termasuk Indonesia. Hal ini menjadikan masalah baru bagi lingkungan khususnya, yaitu Sampah Medis selama wabah berlangsung. Terkait antisipasi penularan wabah, WHO dan pemerintah Indonesia menyarankan penggunaan masker sekali pakai dan sarung tangan lateks. Namun, penggunaan masker sekali pakai dan sarung tangan lateks yang dijual dipasaran bebas menimbulkan masalah baru bagi Indonesia. Yaitu, pihak tenaga medis dan rumah sakit sulit mendapatkan nya dan tentunya adalah sampah yang dihasilkan.

Menurut Prigi Arisandi Direktur Eksekutif Enviromental Conservation Organization (Ecoton) menyatakan bahwa masker sekali pakai yang dijual dipasaran bebas terbuat dari bahan sintetis sehingga masuk kategori sampah ‘residu’ yang pengolahannya harus di-dumping di TPA, selain itu masker sekali pakai bersifat sampah non-daur ulang sehingga akan berakhir di tempat pembuangan sampah (TPS) pembohong, sungai dan laut. “Selain itu, sampah masker juga sebagai media penyebaran berbagai penyakit.

Menurut kriteria Badan Kesehatan Dunia (WHO), pengelolaan limbah rumah sakit dikatakan baik ketika proporsi medis berada di angka 15 persen. Namun, di Indonesia angka ini mencapai 72,7 persen. Parahnya, pemeriksaan kualitas limbah hanya dilakukan oleh 57,5 ​​persen rumah sakit. Tak heran, pada tahun 2014, rerata nasional produksi limbah rumah sakit mencapai 376.089 ton / hari untuk limbah padat dan 48.985,70 ton / hari untuk limbah cair.

Pemerintah sendiri sudah melakukan upaya untuk mengatasi hal tersebut dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sudah mengeluarkan surat edaran pengelolaan limbah B3 untuk penanganan Covid-19. Yang diatur di bawah air adalah limbah infeksius yang berasal dari pelayanan kesehatan, rumah tangga dengan orang dalam aliran (ODP) dan sampah rumah tangga serta sampah rumah tangga. Limbah infeksius akibat perawatan ODP adalah masker, sarung tangan, dan baju pelindung diri yang harus dikumpulkan dan dikemas menggunakan

wadah tertutup yang kemudian diangkut dan dimusnahkan di tempat pengelolaan limbah B3. Namun, harus juga ada upaya pengelolaan lokalisasi pengelolaan limbah medis infeksius tersebut agar edaran yang dikeluarkan pemerintah itu bisa berjalan dengan baik. Selain itu, perlu sosialisasi penanganan limbah medis kepada masyarakat, khususnya pada rumah yang memiliki ODP, untuk limbah medis Covid-19. Dan yang paling penting adalah Pemerintah daerah dan kabupaten harus menyediakan layanan kontainer khusus sampah bekas masker.
Ketidakadaan masker di pasaran bisa diantisipasi dengan masker buatan sendiri (handmade masker). Masker buatan sendiri bisa dibuat dengan partikulat filter yang terbuat dari bahan kain. Karena lebih hemat dan dapat menerima. Sehingga lebih ramah terhadap lingkungan. Menurut juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Ahmad Yurianto menyebutkan, masker berbahan dasar kain dapat dijadikan alternatif untuk mencegah penularan virus ditengah kelangkaan masker bedah seperti sekarang ini, masker kain dapat menjadi pilihan tidak menggunakan masker sama sekali.
Tata kelola sampah medis juga berpedoman pada Peraturan Menteri LHK No. 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 pada bab VI Pengolahan limbah berbahaya dan racun. Yaitu menggunakan peralatan berupa autoklaf, membual mikro, iradiasi frekuensi radio dan insinerator (pasal 17 poin 2). Pengelolaan sampah B3 harus dilakukan dengan memakai insinerator bersuhu 800o C yang dilengkapi dengan pencacahan dengan persyaratan lokasi pengolahan limbah B3 termasuk, daerah bebas banjir dan tidak rawan bencana alam, atau dapat direkayasa dengan teknologi untuk perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; dan jarak antara lokasi pengelolaan B3 diatur dalam lingkungan (pasal 19).
Usia terurainya sampah medis terutama yang berbahan sintetik sangat lama yaitu kurang lebih 30-80 tahun. Sehingga hal tersebut sangat merugikan lingkungan itu sendiri. Karena akan menyebabkan pencemaran tanah dalam waktu yang lama. Sedangkan untuk masyarakat awam terutama yang memiliki kerentanan yang tumbuh atau imun yang rendah, sangat mudah tertular oleh penyakit-penyakit

yang ada di sampah limbah medis tersebut. Hal ini juga dapat menyebabkan adanya potensi penularan virus Covid-19 melalui sampah medis, jika tidak melakukan pengolahan sampah medis yang baik dan benar.
Pemerintah daerah atau dukungan pelaku usaha diharapkan segera turun untuk membangun sistem pengangkutan alat-alat pelindung diri dari rumah atau fasilitas layanan kesehatan pertama, seperti puskesmas dan klinik. Kemudian dalam penanganan penanganan penanganan bencana, pemerintah, pemerintah daerah, dan dunia diharapkan dapat berkontribusi langsung dengan penyediaan sarana (drop box) limbah. Drop box ini menjadi tempat belajar dari rumah masyarakat. Dan juga menambah ttik-titik pengolahan limbah B3 di kawasan yang banyak terdampak wabah Covid-19.
Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!
#BEMUNRI #SriIndrapura #JantungHatiMasyarakatRiau #Kemenlindup
#InfografisLimbahMedis
____________________________________
Presiden Mahasiswa: Syafrul Ardi
Wakil Presiden Mahasiswa: Abdul Hamid
—————————- —————————–
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP
KABINET SRI INDRAPURA
BEM UNIVERSITAS RIAU 2020