“Viral Fenomena Crooshijaber Yang Meresahkan Masyarakat, BEM UNRI Adakan Diskusi Perempuan”

Pekanbaru (01/10/2019)– Akhir-akhir ini, media sosial dikagetkan dengan fenomena crosshijaber, yakni laki-laki yang memakai pakaian perempuan muslimah, bercadar dan syar’i. Menanggapi berita tersebut, pada Jumat (01/10/2019) BEM UNRI melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan mengadakan diskusi terbuka bernamakan Si Puan di sekretariat BEM UNRI.

Menghadirkan seorang tokoh sebagai narasumber, yakni Dr. Yusnarida Eka Nizmi, M. Si yang merupakan salah satu dosen FISIP UNRI. Diskusi Perempuan atau disingkat Si Puan ini tidak hanya mendiskusikan terkait fenomena viralnya crosshijaber yang meresahkan masyarakat, tetapi juga memberikan tips-tips untuk menanggapi fenomena tersebut sebagai seorang muslimah.

Dalam pembukaan materinya, Yusnarida menjelaskan istilah crosshijaber merupakan bagian dari crossdress. Crossdress merupakan perbuatan di mana seseorang mengenakan pakaian berlainan gender, laki-laki berpakaian perempuan dan sebaliknya, sedangkan crosshijaber adalah laki-laki yang mengenakan pakaian muslimah, berhijab hingga bercadar.

Pembicara menyampaikan bahwa fenomena crossdress merupakan fenomena lama yang berulang. Crossdress sudah dilakukan oleh Alexander De Great. Di Indonesia dapat dilihat pada pertunjukan seni, seperti ludruk.

Menurut pandangan psikolog, crossdress merupakan salah satu bentuk penyimpangan seksual yang dikenal dengan istilah transvesistisme. Di mana kecenderungan penyimpangan ini banyak di alami oleh kaum adam atau laki-laki kisaran 98%, akan tetapi tetap pada kondisi heteroseksual nya.
.
Fenomena viral yang terjadi pada hari ini, karena adanya laki-laki yang berpakaian muslimah, berhijab dan cadar telah berani dan terang-terangan masuk ke ranah publik, bahkan pada tempat-tempat khusus perempuan, seperti masjid dan kamar mandi yang membuat masyarakat khawatir dan waspada.
.
“Kekhawatiran dan waspada itu merupakan ekspresi yang wajar, karena ditakutkan adanya motif lain seperti tujuan-tujuan kriminal. Selain itu, crosshijaber yang mengenakan cadar tersebut akan semakin menyulitkan dalam mengenali pelakunya. Apakah laki-laki atau perempuan(?) Takutnya nanti akan menimbulkan phobia, stigma negatif yang berlebihan terhadap orang-orang yang bercadar hingga munculnya kebijakan pelarangan cadar,” jelas Yusnarida.
.
Oleh karena itu, pemateri menyampaikan bahwa saat ini kita harus aware, lebih peka, kepo dan paham terhadap isu-isu sosial.
.
“Dalam menyikapi fenomena ini, kita berharap polisi menindaklanjutinya, meskipun belum ada korban atas perbuatan ini, kita harus menyadari bahwa crosshijaber dapat mengancam keamanan dan berpotensi terjadinya tindak kejahatan.” tutup Yusnarida sebagai pemateri.
.
Kemudian, setelah penyampaian materi tersebut, forum dibuka untuk diskusi dan tanya jawab. (MO/FLM)
#BEMUNRI #SriIndrapura #JantungHatiMasyarakatRiau #KemenPP #KunjunganSilaturahmi
____________________________________
Presiden Mahasiswa : Syafrul Ardi
Wakil Presiden Mahasiswa : Abdul Hamid
———————————————————
KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
KABINET SRI INDRAPURA
BEM UNIVERSITAS RIAU 2019