Upaya Dini Pencegahan KARHUTLA di Provinsi Riau dalam Bahasan TalkShow Lingkungan BEM UNRI

Pekanbaru, (15/02/20) – Merujuk kepada catatan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika) yang menyatakan pada tahun 2020 ini, daerah Riau khususnya akan mengalami musim kemarau selama 7 bulan yang artinya akan lebih panjang dari tahun sebelumnya, tahun 2019. BEM UNRI melalui Kementerian Lingkungan Hidup melaksanakan kegiatan TalkShow lingkungan pada (13/02/20) lalu di Gedung Rektorat lantai 4 Universitas Riau. Dengan tema “Kemarau 2020: Siapkah Riau?”. Menghadirkan Dr.Ir.Ruandha Agung Sugardiman M.Sc selaku Dirgen Pengendalian dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kebersihan (KLHK) RI dan Naspi Yandri SE selaku Kasubbid Kesiapsiagaan. Talkshow ini di moderatori oleh Daniel Ahmadian selaku Gubernur Mahasiswa Faperta. Pada pembukanya Dirgen PPI KLHK RI menyampaikan permohonan maaf dari ibu Menteri yang kembali berhalangan hadir pada undangan kedua ini dikarenakan beliau memiliki agenda bersama pak Presiden.

Kekhawatiran terbesar saat ini adalah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan bisa saja seolah menjadi bom waktu yang dapat terjadi kapan saja. Jika terjadi kelalaian sedikit saja dari masyarakat ataupun oknum-oknum tertentu. Mengingat sejumlah daerah Riau merupakan daerah gambut yang rawan terbakar dengan kisaran luas 4 juta Ha. 99% kebakaran lahan dan hutan memang diakibatkan oleh manusia namun 1% sisanya adalah bencana alam.

Sebagai salah satu daerah yang memiliki hotspot terbanyak dengan yang tertinggi adalah Provinsi Sumatera Selatan. Daerah Riau masih kurangnya penyuluhan mengenai cara membuka lahan dengan baik meskipun dengan cara membakar. Sebagaimana disebutkan oleh Dr.Ir.Ruandha Agung Sugardiman M.Sc, Dirgen Pengendalian dan Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kebersihan (KLHK) RI bahwa, “Saat ini terdapat kearifan lokal bahwa dibenarkan untuk membakar disaat membuka lahan maksimal 2 Ha dan tidak dilakukan secara bersamaan, kemudian bertujuan untuk kepentingan keluarga,lalu selanjutnya dibolehkan asal dengan izin dan lapor kepada manggala agni,” ucapnya. Karena logika saja jika pembakaran dilakukan secara bersamaan dengan luas 2 Ha. Akan mengakibatkan kabut asap yang menyiksa dan kebakaran yang besar yang selama ini selalu di antisipasi.

Naspi Yandri SE, Kasubbid Kesiapsiagaan mengatakan saat ini ada beberapa kebijakan strategi Pemerintahan Provinsi Riau dalam mencegah Karhutla, “Dalam kasus Karhutla memang sebaiknya dilakukan pencegahan daripada memadamkan api setelah hal tersebut terjadi, saat ini ada beberapa strategi kebijakan Pemerintah Riau, yaitu :

  1. Melakukan pemetaan terhadap daerah rawan bencana.
  2. Melakukan inventarisasi kembali terhadap izin perusahaan perkebunan dan perusahaan hutan yang beroperasi di wilayah Provinsi Riau.
  3. Perlibatan perusahaan dalam patroli bersama yang dapat dimonitor langsung oleh Satgas Karhutla Provinsi Riau.
  4. Penyediaan alat pertanian di 99 kecamatan yang rawan Karhutla dan penyediaan tanaman yang ramah lingkungan.
  5. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan sehingga menciptakan ekowisata terutama di kawasan hutang lindung dan hutang konservasi.
  6. Perlibatan dunia pendidikan terhadap Dosen dan tenaga pengajar lainnya, serta Mahasiswa untuk melakukan kuliah kerja nyata(KKN) dalam mensosialisasikan bahwa Karhutla diakibatkan karena membuka lahan secara membakar.
  7. Menanam tanaman yang ramah lingkungan di lahan gambut.
  8. Sistem informasi aplikasi peringatan dini dalam mengetahui lokasi titik hotspot di lapangan.
  9. Pembuatan embung dan sekat kanal pada lokasi lahan gambut.
  10. Penetapan siaga darurat jika sudah ada informasi awal dari BMKG mengenai jika sudah masuknya musim kemarau terutama di Riau.
  11. Pembentukan tim terpadu penertiban kebun sawit ilegal.
  12. Penegakan hukum.
  13. Perlunya sinergitas antara semua pihak,” jelasnya.

Para peserta sungguh memiliki antusias yang tinggi selama talkshow berlangsung, terutama pembahasan terkait korporasi nakal yang masih saja terbengkalai, Dr.Ir.Ruandha Agung Sugardiman M.Sc menanggapi,”Saat ini kebakaran masih bisa dikatakan terjadi akibat petani karena memang belum ada bukti yang kuat terkait adanya korporasi, dan pihak Pemerintah terus mencari bukti dan berharap para petani buka mulut terhadap dalang dibalik kejadian pembakaran lahan dan hutan nah kami juga menantang mahasiswa sekalian jika menemukan bukti terkait korporasi ayo sama-sama kita laporkan ke pihak yang berwajib”. Tutupnya. (MS)

ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
#BEMUNRI #SriIndrapura #JantungHatiMasyarakatRiau #KemenLindup #Rilis #TalkShowLingkungan
____________________________________
Presiden Mahasiswa : Syafrul Ardi
Wakil Presiden Mahasiswa : Abdul Hamid
———————————————————
KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP
KABINET SRI INDRAPURA
BEM UNIVERSITAS RIAU 2020