[PRESS RELEASE : Kaji Vaksin sebagai Proteksi Covid-19 Melalui Ruang Dialektika BEM UNRI]

Pekanbaru, (05/03/2021) – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Riau (BEM UNRI) telah menggelar Kajian Ruang Dialektika dengan tema “Vaksin Tanpa Paksa” pada Kamis (4/3) lalu, pukul 14.00 WIB melalui link Zoom Meeting. Kajian ini menghadirkan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Riau, dr. Afrianti, M. Biomed., M. Sc., P.hD untuk memberikan edukasi dan kesadaran kepada mahasiswa UNRI mengenai esensi dari vaksin untuk mencegah penularan Virus Covid-19.

dr. Afrianti menjelaskan kasus Covid-19 saat ini sudah mencapai 115 juta kasus di dunia, hal ini bukan merupakan pandemi pertama, melainkan pandemi seperti Ebola, SARS (2002- 2003), dan Flu Burung (2009) yang sudah terjadi sebelumnya. Sebelum membuat Vaksin Covid 19, peneliti harus mengenal virusnya. Protein RBD yang merupakan bagian dari spike protein akan dijadikan sebagai marker yang menentukan apakah akan mengalami kekebalan tubuh setelah seseorang divaksinasi.

“Dengan adanya vaksin ini menjadi sebuah preventif agar tidak terjadinya penularan virus. Selain itu, dengan menerapkan protokol kesehatan juga menjadi cara yang efisien untuk mencegah terjadinya penularan virus,” tambah dr. Afrianti.

Lebih lanjut, beliau mengatakan, “Dengan menerapkan protokol 4M tidak cukup untuk menghentikan laju penularan, maka dilakukan vaksinasi harapannya dapat membantu mencegah terjadinya penularan. Secara konvensional vaksin membutuhkan waktu yang lama untuk dikembangkan. Vaksin juga tidak akan bisa mencegah penularan jika tidak ditunjang dengan penerapan protokol. Intinya antara penerapan protokol dan vaksinasi memiliki keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain demi mencegah penyebaran dan penularan virus.”

dr. Afrianti menyampaikan ada 2 efek samping setelah pemberian vaksin, yaitu secara lokal dan sistemik. Secara lokal, orang-orang akan merasakan kemerahan, nyeri dan bengkak, sedangkan secara sistemik akan mengalami sakit kepala, mialgia, fatig (lesu), demam, dan reaksi alergi. Selain itu, vaksin tidak boleh dilakukan secara paksa kepada kriteria masyarakat yang belum layak divaksinasi, antara lain :
1. Orang yang reaksi alergi, pada vaksin dosis 1,
2. Penyakit autoimun sistemik: SLE, rheumatoid artritis, Inflammatory Bowel Disease (IBD),
3. Infeksi akut,
4. TB,
5. Kanker, talasemia, hemophilia,
6. Obat imunosupresan,
7. Asma, penyakit jantung, hipertensi >180/110,
8. Penyintas covid-19 <3 bulan.

Beliau juga menekankan bahwa yang sulit diatasi dalam penyebaran dan penularan virus ini adalah Orang Tanpa Gejala (OTG). Beliau berharap mahasiswa dapat berperan aktif dalam penerapan protokol kesehatan. “Virus tidak akan menular jika kita menerapkan protokol kesehatan. Karena mahasiswa adalah teladan untuk masyarakat sekitar, diharapkan mahasiswa dapat memberi edukasi yang baik kepada masyarakat sehingga mereka tidak salah kaprah, membenarkan hal yang belum tentu benar atau menyalahkan apa yang belum tentu salah,” pungkas dr. Afrianti.

Kajian kemudian ditutup pada pukul 15.30 WIB oleh Triwulandari selaku anggota Kebijakan Publik Kementerian Sosial Politik (Kemensospol) BEM UNRI. (AS/DN)
——-
BEM UNRI 2021 Kabinet Lentera Bertuah
Presma : Nofrian Fadil Akbar
Wapresma : Fitrah Agra Nugraha
.
#BEMUNRI #KabinetLenteraBertuah #KLBMembara #KemensospolKLB #PressRelease #RuangDialektika #VaksinTanpaPaksa