[PRESS RELEASE : Melalui Majelis Reboan, BEM UNRI Kupas Tuntas Permasalahan Lingkungan di Riau]

Hai, Pejuang Membara!

Jumat, (08/01/2020) – Majelis Reboan kembali diadakan oleh Kementerian Sosial dan Politik BEM UNRI pada Rabu (06/01) lalu. Dengan mengangkat tema “Potret Lingkungan Riau”, diskusi ini dilaksanakan secara online melalui Google Meet dengan menghadirkan Walhi Riau yaitu Eko Yunanda sebagai pembicara.

Diawal diskusi, Eko membahas tentang fenomena kabut asap akibat Karhutla oleh para korporasi yang sempat mengepung sejumlah wilayah di Provinsi Riau yang tidak ada terjadi lagi beberapa tahun belakangan ini. Ia menjelaskan, Karhutla yang terjadi di Riau diakibatkan oleh 2 faktor, yakni adanya pembakaran hutan dan lahan untuk dijadikan perkebunan industri dan kerusakan lahan gambut akibat pengelolaan yang salah.

“Berdasarkan data yang dimiliki oleh Walhi Riau, sekitar 133 ribu Hektar lahan di Provinsi Riau digunakan untuk dikelola oleh masyarakat, dan lebih dari 2 juta Hektar lahan dikuasai oleh korporasi untuk membuka lahan industri. Maka hal ini menunjukan adanya ketimpangan penguasaan dan izin pengelolaan lahan antara masyarakat dan korporasi,” tambah Eko.

Selain itu, Eko juga menyinggung mengenai tindak lanjut dari korporasi yang telah ditetapkan sebagai tersangka penyebab pembakaran hutan dan lahan oleh sejumlah 10 perusahaan, namun hingga kini hanya 2 perusahaan saja yang telah disidang.

“Beberapa perusahaan sudah mendapatkan hasil keputusan sidang, seperti denda sesuai hukuman yang telah ditetapkan. Namun dalam hal ini belum terlaksana secara maksimal,” tuturnya.

Tentu hal ini membuat masyarakat mempertanyakan keseriusan pemerintah khususnya Riau dalam menyelesaikan permasalahan Karhutla yang tak kunjung usai. Maka dari itu, yang menjadi tuntutan kita bersama saat ini adalah 3 aspek, yaitu :

1. Mencabut izin penggunaan lahan korporasi yang telah terbukti melakukan kerusakan dan melakukan pengembalian lahan untuk dikelola masyarakat.

2. Penegakan hukum yang adil dan tegas.

3. Melakukan pengawasan dan publikasi terkait kebijakan khususnya keputusan sidang korporasi yang telah merusak lingkungan.

Tekait tema lingkungan Riau, Eko juga memaparkan terkait permasalahan lahan gambut Riau yang saat ini sangat memprihatinkan. Pembuatan kanal-kanal pada lahan gambut menjadi penyebab utama lahan gambut mengering dan rusak. Keringnya lahan gambut ditambah dengan adanya musim kemarau, dapat menyebabkan risiko kebakaran hutan yang besar, hal ini dikarenakan struktur lahan gambut yang mudah terbakar saat kering.

Kerusakan lahan gambut ini juga dapat menyebabkan banjir dan abrasi. Diketahui di Provinsi Riau sering terjadi abrasi contohnya di Kabupaten Bengkalis, mengikis sekitar 4.000 m setiap tahunnya. “Jika hal ini terjadi terus-menerus berpotensi pulau dan daratan akan tenggelam,” tegas Eko. Ia juga mengatakan Walhi Riau sudah membuat Peraturan Desa untuk membatasi aktivitas gambut, serta selalu mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan lahan gambut.

Sementara itu, menanggapi permasalah sampah yang menumpuk di sepanjang jalan Kota Pekanbaru, Eko menyampaikan bahwa Walhi Riau sudah pernah mengajukan gugatan ke Pemerintah Kota untuk menindak lanjuti.

“Tidak menutup kemungkinan akan diperlukan kerjasama dari mahasiswa dan masyarakat untuk mendorong pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Kota Pekanbaru,” tutur Eko. (YW/DN/AHA)

——-

BEM UNRI 2021 Kabinet Lentera Bertuah

Presma : Nofrian Fadil Akbar

Wapresma : Fitrah Agra Nugraha

.

#BEMUNRI #KabinetLenteraBertuah

#KLBMembara #KemenSospolKLB #PressRelease #MajelisReboan