Tuntut Ketegasan Rektor Tangani Kasus Pelecehan Seksual, Mahasiswa Segel Ruang Kantor Rektor

Pekanbaru (06/12/2021) — Ratusan mahasiswa Universitas Riau menyelenggarakan aksi menuntut kejelasan Rektor menyikapi kasus pelecehan seksual di FISIP UNRI pada Senin (6/12) siang. Aksi dimulai pada pukul 14.45 WIB di depan Gedung Rektorat Universitas Riau dan diikuti oleh berbagai lembaga kampus terutama BEM UNRI, BEM Fakultas dan kelembagaan jurusan. Aksi dilakukan atas dasar kekecewaan mahasiswa terhadap cara Rektor menyikapi kasus pelecehan seksual yang kini telah lebih dari 30 hari semenjak kasus pertama kali dilaporkan.

Penjemputan massa aksi dimulai pada pukul 14.00 WIB setelah massa dari FK, FH, dan FKp datang ke Sekretariat BEM UNRI. Massa aksi yang dikomandoi oleh Sandi Purwanto selaku koordinator lapangan melakukan penjemputan massa aksi ke fakultas lainnya. Bersama penjemputan itu pula terus digaungkan lagu Mars Mahasiswa. Setelah sampai di Rektorat, dilakukan pembentangan spanduk dan penyampaian orasi oleh masing-masing perwakilan kelembagaan.

Kebijakan yang konkret belum dikeluarkan, aspirasi mahasiswa pun tidak dipedulikan. Hak-hak dan kewajiban belum diterima mahasiswa lantaran bungkamnya Rektor. Tuntutan mahasiswa dilakukan untuk meminta aksi tegas Rektor terhadap pelaku kekerasan seksual yang hingga kini masih bebas keluar-masuk kampus. Secara struktural dan fungsional, pelaku masih resmi menjabat. Seharusnya, pelaku diberi sanksi akademik berupa pembebasan sementara dari jabatan strukturalnya. Bagaimana mungkin seorang pelaku pelecehan seksual masih bebas keluar-masuk kampus di saat mahasiswa tidak memercayainya lagi?

Meski begitu, hingga detik akhir Rektor tidak kunjung turun secara langsung dan tidak mendengarkan tuntutan mahasiswa dengan alasan sedang berada di luar kota. Wakil Rektor I, Prof. Dr. H. M. Nur Mustafa, M.Pd, sebagai kuasa Rektor ikut turun dan memberikan sepatah dua patah kata. Namun, masih belum ada kejelasan yang diinginkan mahasiswa. Padahal keinginan mahasiswa adalah pengusutan serta penindak-lanjutan terhadap pelaku agar kasus tidak berlarut-larut.

“Yakinlah proses itu akan berjalan dengan semestinya dan akan diterima. Perhatian kepada korban tetap kami berikan, namun ada tahapan-tahapan yang belum kami selesaikan,” begitu sekiranya ungkapan dari Wakil Rektor I di hadapan massa aksi.

Berdasarkan hasil konsolidasi pada Minggu (5/12) telah disepakati empat tuntutan yang ditujukan kepada Rektor Universitas Riau. Adapun isi tuntutan tersebut adalah :
1. Mendesak Rektor Universitas Riau untuk mengecam keras segala bentuk tindakan pelecehan seksual dan menuntut keseriusan dalam pencegahan serta penanganan kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus Universitas Riau.
2. Menuntut Rektor Universitas Riau untuk membebastugaskan sementara tersangka dari jabatan fungsional dan struktural di dalam kampus Universitas Riau selama proses penuntasan kasus pelecehan seksual berlangsung.
3. Menuntut Rektor Universitas Riau untuk menjamin segala bentuk perlindungan terhadap korban, baik berupa perlindungan administratif, perlindungan psikologis serta perlindungan dari berbagai ancaman kriminalisasi.
4. Menuntut Rektor Universitas Riau untuk menyampaikan transparansi hasil penyelidikan Tim Pencari Fakta yang telah dibentuk.

Empat tuntutan tersebut telah diserahkan kepada Bapak Nur Mustafa selaku kuasa Rektor dan telah disampaikan bahwa massa aksi menuntut agar pelaku diberi sanksi akademik berupa pembebasan sementara dari jabatan strukturalnya. Dikarenakan empat tuntutan tersebut tidak diterima langsung oleh Rektor, maka pada pukul 17.00 WIB massa aksi memutuskan untuk menduduki dan menyegel ruang Rektor Universitas Riau sampai ada keputusan jelas dan resmi dari pihak Rektor. Massa aksi kemudian dibubarkan pada pukul 17.40 WIB setelah penyegelan ruang Rektor terlaksana. (DAA/NT)

Presiden Mahasiswa : Kaharuddin HSN DM
Wakil Presiden Mahasiswa : Razali

KEMENTERIAN HUKUM DAN ADVOKASI KESEJAHTERAAN MAHASISWA

BEM UNRI 2021/2022
———————————————————
#BEMUNRI
#BeragamSeirama
#TransisiBiruLangit
#Kemenhadkesma
#RilisAksiUsutTuntasKasusPelecehanSeksual
#StopPelecahanSeksual
#KamiTidakGentar
#BergerakResponsifBerlakuSolutif