POHON BINTARO

A. Bioekologi

Buah bintaro termasuk tumbuhan mangrove yang berasal dari daerah tropis di Asia, Australia, Madagaskar, dan kepulauan sebelah barat Samudera Pasifik. Pohon bintaro sering disebut juga sebagai mangga laut, buta badak, babuto, dan kayu gurita. Dalam bahasa Inggris tanaman ini dikenal sebagai sea mango.

Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) bintaro dinamai sebagai Cerbera manghas.

Biasanya, pohon bintaro memiliki tinggi 4-6 meter, tetapi juga dapat mencapai 12 meter. Daun dari pohon bintaro berwarna hijau tua mengkilat berbentuk bulat memanjang.

Sementara bunganya berwarna putih dan berbau harum yang terdiri atas lima petal dengan mahkota berbentuk terompet yang pangkalnya berwarna merah muda.

Buah bintaro berbentuk bulat telur dengan panjang sekitar 5-10 cm. Saat masih muda, buah bintaro berwarna hijau pucat yang kemudian berubah warna menjadi merah marun ketika masak.

Dalam jurnal Repository Poltekkes Tanjungkarang, seluruh bagian dari tanaman bintaro beracun karena mengandung senyawa golongan alkaloid yang bersifat repellent dan antifeedant.

B. Manfaat Buah Bintaro

Meski mengandung senyawa kimia untuk mengusir hama, buah ini juga memiliki beberapa manfaat lain bagi manusia, di antaranya:

1. Penghijauan

Pohon bintaro memang memiliki habitat asli di pantai dan hutan bakau (mangrove), tetapi dianabol cycle bintaro juga banyak ditanam di tempat lain sebagai penghijauan untuk menyerap karbondioksida (CO2).

Selain itu, bintaro juga berfungsi sebagai tanaman peneduh karena termasuk jenis flora yang mudah beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya dan memiliki ketahanan yang cukup tinggi.

2. Pestisida

Kandungan racun dalam buahnya juga membuat tanaman bintaro dapat digunakan sebagai pestisida alami.Hal ini didukung oleh penelitian tentang Cerbera manghas yang telah membuktikan bahwa bintaro sangat berpengaruh terhadap tingkat kematian serangga hama gudang.

Buah bintaro juga memberikan efek kematian yang sangat tinggi terhadap kutu beras S. oryzae (ColeopteraCurculionidae) karena hampir seluruh bagian tanaman bintaro beracun.Pasalnya, bintaro mengandung senyawa golongan alkaloid yang bersifat toksik, repellent, dan mempunyai aktivitas penghambat makan terhadap serangga hama gudang (antifeedant).

Sebuah studi yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa dari Program Studi Agribisnis Politeknik Negeri Banyuwangi menunjukkan bahwa penggunaan pestisida nabati larutan ekstrak buah bintaro mampu mengendalikan populasi hama ulat pada buah melon.

3. Bahan Bakar Alternatif

Buah bintaro bisa dimanfaatkan untuk energi atau bahan bakar alternatif. Hingga kini, telah banyak penelitian yang mengkaji manfaat buah beracun ini sebagai sumber bioetanol. Berdasarkan penelitian dari Jurusan Teknik Kimia FTI UNPAR, adanya kandungan selulosa menjadikan buah bintaro berpotensi dalam pembuatan bioetanol melalui proses hidrolisis yang memecah selulosa menjadi glukosa yang merupakan bahan baku fermentasi bioetanol.Selain itu, buah bintaro berpotensi juga dalam pembuatan karbon aktif dikarenakan kandungan lignin pada buah bintaro memiliki komposisi yang hampir sama dengan tempurung kelapa yang banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif secara komersial.Namun, masih diperlukan penelitian lanjutan untuk bisa menggunakan bintaro sebagai bahan bakar.Selain dapat digunakan sebagai pestisida alami dan berpotensi menjadi energi alternatif, bintaro juga dikenal ampuh untuk mengusir tikus karena kandungan racunnya.Bagian buah bintaro yang paling ampuh sebagai pengusir tikus adalah bijinya.Kandungan kimia yang terkandung dalam biji bintaro, yaitu steroid, 14 triterpenoid, saponin, dan alkaloid yang terdiri dari cerberine, serberosida, neriifolin, dan thevetin.Seperti yang dijelaskan sebelumnya, senyawa alkaloid ini memiliki karakter toksik, repellent, dan antifeedant pada serangga.Oleh karena itu, buah bintaro merupakan bahan yang dapat dijadikan rodentisida nabati untuk mengendalikan hama tikus.Rodentisida merupakan bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh tikus dan mengganggu metabolisme tikus sehingga menyebabkan tikus keracunan dan mati.Gejala keracunan ini dikenal sebagai efek knock down, yang dapat diketahui melalui tingkat aktivitas perilaku tikus, kondisi bulu di sekitar hidung dan lubang anus, serta muntah.Pada saat tikus diberikan ekstrak biji bintaro, terjadi penurunan berat badan karena senyawa yang bersifat toksik terakumulasi di dalam tubuh tikus.Maka, semakin lama tikus menyerap senyawa-senyawa tersebut akan mempengaruhi proses metabolisme tikus dan akhirnya menyebabkan kematian pada tikusHal ini karena ektrak biji buah bintaro yang sangat beracun dan mengandung cerberin sebagai komponen aktif utama cardenolide ini akan menyebabkan tikus mengalami mortalitas kematian yang tinggi ketika aplikasikan pada tikus.