POHON PINUS

A . Bioekologi

Pohon Pinus merkusii Jungh. et de Vriese merupakan jenis pinus yang tumbuh asli di wilayah Indonesia dan pertama kali ditemukan dengan nama “Tusam” di daerah Sipirok, Tapanuli Selatan oleh seorang ahli botani dari Jerman Dr. F. R. Junghuhn.Tusam kebanyakan bersifat berumah satu (monoecious), yaitu dalam satu tumbuhan terdapat organ jantan dan betina namun terpisah, meskipun beberapa spesies bersifat setengah berumah dua (sub-dioecious).Selain termasuk jenis tanaman cepat tumbuh (fast growing species), jenis pinus ini merupakan jenis pinus yang tidak memerlukan syarat-syarat tempat tumbuh yang khusus sehingga mudah untuk dibudidayakan bahkan pada tempat yang kering.Tidak hanya kayunya saja yang dapat dimanfaatkan,  (hasil hutan bukan kayu ) jenis getah yang dihasilkan Pinus merkusii ini juga dapat diolah menjadi gondorukem dan terpenting. Kedua hasil olahan destilasi getah pinus ini sangat bermanfaat sebagai bahan baku di berbagai industri. Oleh karena itu, Pinus merkusii sangat berpotensi untuk diusahakan.

B .Manfaat Kayu Pinus

Kayu yang dihasilkan oleh pohon Pinus merkusii termasuk ke dalam jenis kayu ringan-sedang dengan berat jenis antara 0,46-0,7. Kayu pinus ini juga termasuk ke dalam kelas kuat II – III dan kelas awet IV. Kayu gubal pinus memiliki ketebalan 6-8 cm berwarna putih atau kekuning-kuningan, sedangkan pada bagian atas berwarna coklat tua atau kemerah-merahan.Kayu pinus memiliki tekstur kekerasan, daya kembang, surut dan retak sedang. Sifat pengerjaan mudah untuk dipapas, namun agak sulit digergaji karena getah yang terkandung didalamnya (Samingan 1980 dalam Burrahman 2006).Kayu pinus dapat dipanen ketika pohon pinus berumur 15 tahun. Kayu pinus pada umumnya dimanfaatkan dalam pembuatan perabotan rumah, kayu lapis, korek api, kertas serat panjang, tiang listrik, bahan baku mainan anak-anak dan lain sebagainya.