Halo, Sahabat Kreators!

Pekanbaru (06/01/2022) – Pasca pemberitaan rencana penghapusan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium dan Pertalite beberapa waktu lalu, BEM UNRI melalui Kementerian Sosial Politik mengadakan diskusi mengenai kebijakan tersebut dari perspektif ekonomi pada (29/12) lalu. Setelah melihat dari segi ekonomi, kini Kemensospol menggelar Majelis Reboan yang bertajuk “Perspektif Lingkungan Terhadap Kebijakan Pemerintah dalam Penghapusan Premium dan Pertalite”. Kegiatan dilaksanakan pada Rabu (05/01) pukul 16.00 WIB. Pada kesempatan kali ini, Boy Jerry Even Sembiring, Executive Director WALHI Riau, turut bergabung sebagai pemateri.

Mengawali diskusi, pemateri melontarkan sebuah pertanyaan, “Apakah benar yang disampaikan Pemerintah ini pada kenyataannya benar-benar untuk alasan lingkungan?” Jika ditelaah lebih jauh, ternyata jawabannya tidak. Pemerintah tidak benar-benar melakukan ini karena alasan lingkungan. Hal ini disebabkan salah satunya karena ada kegiatan impor yang semakin tinggi, hal ini akan memakan biaya yang tinggi tentunya.

Saat ini WALHI mengapresiasi dengan baik, dengan catatan negara harus menyamakan harga Pertamax dengan Pertalite. Walaupun angka kemiskinan kita kecil. “Kita apresiasi kalau pemerintah mau mendorong penggunaan Pertamax, tapi dengan catatan subsidinya harus ditingkatkan,” ujar Boy dalam penyampaian materinya.

Di sisi lain, pemerintah harus memikirkan juga masyarakat dalam menggunakan BBM. Sedangkan dapat dikatakan bahwa Indonesia termasuk pengguna BBM terbesar. Alternatif lainnya bisa menggunakan energi baru terbarukan. Namun pastinya ada efek lain, salah satunya pada peralihannya itu butuh biaya yang besar. Kemudian bagaimana solusi cermatnya jika menggunakan energi baterai atau listrik? Tentu saja yang ditambah bukan motor atau kendaraan listrik pribadi, melainkan transportasi publiknya yang diperbarui. Kemudian bagaimana maksimalkan solar panel? PLTU akan merusak air, sedangkan batu bara asumsinya bukan lebih murah juga. Menurut WALHI, pemerintah mengganti Premium dan Pertalite ke Pertamax itu karena ekonomi, bukan lingkungan.

Setelah pemaparan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Nurvita Erial selaku moderator. Salah seorang peserta diskusi menanyakan, bagaimana sebenarnya keseimbangan alam selama ini yang padahal kita ketahui bahwa kita tidak baru saja menggunakan bahan bakar Premium dan Pertalite, lalu bagaimana dampaknya beberapa tahun kedepan terhadap lingkungan jika masih menggunakan Premium dan Pertalite?. Kemudian pertanyaan dijawab langsung oleh pemateri “Untuk itu kita bisa lihat dari aspek kesehatan, misalnya berapa relasinya dengan pertumbuhan pengidap kanker paru-paru, yang berkaitan dengan paru-paru itu secara otomatis adalah dampak dari pencemaran lingkungan. Yang kedua kita berbicara kepada perubahan iklim. Bumi ada pelindungnya, yaitu ozon. Ketika panas dari matahari ke bumi, akan dipantulkan dan bumi akan hangat. Selanjutnya dampak lingkungan menyebabkan bumi makin panas, artinya suhu makin naik jika ozon ini menipis,” jelas pemateri.

Setelah sesi tanya jawab, agenda Majelis Reboan ditutup dengan penyampaian closing statement oleh pemateri. “Kita itu harus sadar bahwa pertarungan itu bukan dari kelompok penguasa tapi juga dari era pendidikan, era kapital, semua ruang mereka kuasai dan mereka masuki, mereka meregenerasi melalui ruang penddidikan. Berpikiran kritis itu adalah suatu hal pokok dan hal yang wajib, kita dituntut berpikir kritis terhadap hal-hal yang ada. Terakhir adalah jangan membenci sesuatu yang kamu belum tau,” tutup Boy. (NT)
.
___◾◼️◾____
Presiden Mahasiswa : Kaharuddin HSN DM
Wakil Presiden Mahasiswa : Razali
___◾◼️◾____
.
Kementerian Sosial Politik
Kabinet Kreator Pergerakan
BEM UNRI 2021/2022
.
#BEMUNRI #KabinetKreatorPergerakan #KreatorPergerakan #BeragamSeirama #SemangatBermanfaat #KemensospolKKP #PressReleaseMajelisReboan